1. HOME
  2. FINANCE
FINANCE

Ini 6 'Dosa' yang Sering dilakukan Entrepreneur Pemula

Salah satu 'dosa' yang kerap dilakukan pemula adalah mempekerjakan orang dengan kemampuan rendah dan dibayar dengan upah murah.

By Dwifantya Aquina 7 Maret 2016 17:39
Ilustrasi wirausaha pemula (Pixabay)

Money.id - Dosa merupakan hal lumrah yang dilakukan oleh manusia biasa. Tapi bagaimana jika dosa itu dilakukan oleh pebisnis pemula yang akhirnya membuat bisnis yang dijalani tidak berjalan sebagaimana mestinya?

Sayangnya, tidak sedikit entrepreneur pemula yang melakukan dosa tersebut, hingga akhirnya bisnis startup yang susah payah dirintis alami kebangkrutan. Agar kesalahan-kesalahan itu tidak dilakukan oleh bisnismu, coba baca beberapa daftar kesalahan yang dikutip dari CekAja.com berikut ini.

Menyangka sudah paham betul apa yang diinginkan dan dibutuhkan konsumen

Hanya karena kamu punya inovasi baru, bukan berarti konsumen akan menyukainya juga. Sebelum menghabiskan banyak uang untuk mewujudkan inovasi tersebut, pastikan kamu mencari tahu minat dan ketertarikan konsumen, bertanya pada expert di bidang industri, dan juga para investor.

Terlalu percaya diri kalau tidak punya kompetitor

Startup yang merupakan pionir di bidangnya harus tetap waspada akan keberadaan pesaing meskipun belum punya kompetitor. Sebagai contoh, Gojek merupakan layanan ojek online satu-satunya di Indonesia. Dan meskipun saat itu Grabbike belum masuk dan mencuri pelanggan Gojek, Gojek harus sudah mengantisipasi hal ini jauh-jauh hari denga menciptakan inovasi.

Jika ketinggalan dari segi inovasi dan teknologi, Gojek akan mulai ditinggalkan pelanggannya.

Terlalu yakin sudah menjadi paling unggul

Banyak entrepreneur yang merasa sudah terlalu yakin kalau mereka jauh melampaui kompetitor. Mereka lupa kalau perusahaan besar dengan banyak sumber daya bisa saja melakukan inovasi lebih canggih dan mengambil alih pasar.

Mengandalkan sepenuhnya pada teman dan keluarga untuk menjalankan bisnis

Setiap bisnis startup membutuhkan dedikasi dan kemampuan untuk bertahan. Keluarga dan teman cenderung untuk memberi tahu apa yang ingin kamu dengar daripada apa yang kamu harus dengar. Sudah banyak bisnis yang hancur gara-gara hubungan pribadi dengan keluarga dan teman-teman.

Mendelegasikan orang lain untuk melakukan transaksi dan mengatur arus kas

Entrepreneur yang menyepelekan urusan keuangan dan lebih fokus pada mengembangkan produk sebenarnya sedang menghancurkan bisnisnya sendiri. Entrepreneur yang baik tahu tentang kondisi keuangan start up-nya sendiri dan mengurus setiap tagihan. Atau jika tidak mengerti, dia akan mencari bantuan penasihat keuangan.

Merekrut orang yang tidak lebih pintar darinya

Jangan gengsi! Seorang entrepreneur sering merasa kalau dia tahu segalanya tentang bisnis yang dijalankan. Akhirnya, mereka lebih memilih mempekerjakan orang yang biasa-biasa saja tapi mau dibayar murah dibandingkan dengan orang yang ber-skill dan berpengalaman meski bayarannya mahal. Rekrut orang yang bisa mengajarimu, bukan yang harus diajari.

Membangun bisnis tanpa tujuan spesifik

Membangun bisnis jauh lebih kompleks daripada membangun rumah. Tapi ibarat membangun rumah, hasilnya tidak akan bagus dan indah tanpa rencana yang matang. Rencana tersebut tidak harus melulu tentang menggaet investor, tapi bisa berupa pemetaan beban kerja dan hasil yang diinginkan untuk kamu.

Jadi, kamu yang hendak membangun startup, cobalah sebisa mungkin untuk menghindari kesalahan-kesalahan tersebut. Selain menyelematkan startupmu dari kegagalan, kamu juga menyelamatkan orang-orang yang mengandalkan pendapatan dengan bekerja di perusahaanmu.

(da/da)

Related

Komentar

Trending Now

Recommended

What Next

More From Finance Section