1. HOME
  2. DIGITAL
HACKER

Orang Indonesia Paling Gampang Terkena Penipuan Online

26 persen konsumen online asal Indonesia dinyatakan mengalami kerugian finansial akibat muslihat di dunia maya.

By Adhi 1 Juni 2016 12:58
Ilustrasi belanja online (pexel.com)

Money.id - Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat bahwa hingga 2015 ada sekitar 88,1 juta pengguna internet aktif di tanah air.

Salah satu hal yang paling sering dilakukan pengguna Indonesia di dunia maya adalah berbelanja online. Ya, booming belanja online turut menumbuhkan pasar e-commerce nasional yang kian potensial.

Namun sayang, di balik fakta positif tersebut terdapat sejumlah fakta negatif. Hal ini dibuktikan oleh survei terbaru yang dirilis oleh dua perusahaan keamanan komputasi Kaspersky Lab dan B2B International.

Berdasarkan survei yang dilakukan di 26 negara sejak pertengahan tahun 2015 lalu, Indonesia diungkapkan menempati posisi tertinggi dalam hal negara dengan konsumen paling banyak menjadi korban penipuan online. Total, 26 persen konsumen online asal Indonesia dinyatakan mengalami kerugian finansial akibat terkena muslihat di dunia maya.

Setelah Indonesia, ada Vietnam dengan 25 persen dan India 24 persen konsumen di negaranya kehilangan uang akibat penipuan online. Total, ada 48 persen konsumen dunia yang menjadi target penipuan online.

Ancaman penipuan online yang menyasar masyarakat memiliki banyak motif. Ancaman tersebut antara lain e-mail mencurigakan yang mengaku dari bank (22 persen) atau situs ritel (15 persen), dan halaman web mencurigakan yang meminta data keuangan (11 persen).

Survei ini juga menemukan bahwa ketika uang konsumen dicuri, maka mereka menderita kerugian dengan estimasi rata-rata sebesar US$283 atau Rp 3,8 jutaan, sementara setiap orang kelima (22 persen) kehilangan lebih dari US$1.000 atau Rp 13,5 juta.

Hanya setengah (54 persen) korban kehilangan uang yang berhasil mendapatkan kembali secara utuh dana mereka yang dicuri. Di sisi lain, hanya seperempat (23 persen) konsumen yang sama sekali tidak berhasil mendapatkan uang mereka kembali.

Baca juga:

(a/a)

Related

Komentar

Trending Now

Recommended

What Next

More From Digital Section